Advertisement

Senin, 19 Oktober 2015

Relevansi Inisiasi di masa Antrop Kekinian: Sebuah Catatan Pojok Tenda

Pada suatu Jumat di tahun 2003, setelah melewati beragam acara penyambutan. Ya, disambut seperti orang penting. Tapi penyambutannya bukan karangan bunga atau karpet merah. Tapi dengan serangkaian acara. Acara penuh lelah, dari ospek Universitas (bangun pagi, naik sepeda pancal dari Petemon menuju Kampus C Unair untuk acara penyambutan mahasiswa baru), ospek Fakultas (bangun lebih pagi lagi, nginap di kos salah satu panitia, apel pagi-siang-sore, menjadi ketua regu kelompok Gramsi, tugas mencatat warta berita jam 9 malam di TVRI, simulasi demo sampai disemprot mobil tangki air di lapangan barat Fisip), dan ospek jurusan.

Saat itu saya sebagai mahasiswa baru, orang kota baru pula, berpikir akan mengalami proses yang kurang lebih sama ketika mengikuti ospek di fakultas. Bertemu senior gondrong, berbaris di lapangan sampai ada tim khusus yang bergerak kilat nan galak jika ada yang melakukan -ataupun dianggap salah. Timdis namanya. Ini yang lebih pantas disebut sebagai macan kampus sejati, tidak seperti lagu PHB dalam Mahasiswa Rantau yang menyebut mahasiswa yang tidak lulus-lulus sampai 17 tahun. Macan kampus itu yang jadi timdis, sedangkan yang tak lulus-lulus saya lebih nyaman menjulukinya sebagai Kura-kura kampus.

Kembali pada cerita sekilas tentang ospek jurusan. Jumat siang selepas Sholat Jumat itulah kami diminta berkumpul oleh panitia. Memang sebelumnya telah ada acara prainisiasi yang menyebabkan saya sudah kenal beberapa orang, dari teman seangkatan sampai kakak kelas. Dalam prainisiasi kami dikenalkan bagaimana antropologi itu, bagaimana metode mencari sampai menyajikan data ala antropologi. Saya masih ingat saat itu secara berkelompok kami keliling kampus untuk mencari fenomena menarik di sekitar kampus B. Observasi saja boleh, wawancara juga oke, kalau dua-duanya digabung juga lebih baik. Itulah simulasi awal dari kehidupan ngantro yang saya alami, dengan melakukan observasi dan wawancara pada tambal ban sekaligus penjual air isi ulang dalam botol yang beroperasi di dekat bank BTN Kampus B Unair. Saat itu saya sadar kalau tidak mudah untuk bertanya jawab pada orang yang baru saja kita kenal. Walaupun kita telah memasang wajah super sumringah, rasa curiga tetap menjadi penghalang. Sesi refleksi dan presentasi tiba walaupun ragu, tapi apapun yang saya dapatkan sebelumnya selama proses observasi dan wawancara saya jelaskan semua. Karena itulah yang dinamakan dengan data. Saya yakin itulah nanti yang menjadi salah satu menu utama ketika kuliah di antropologi. 
Selamat Datang Kerabat Antrop Unair 2003
Hingga jumat siang itu tiba, datang truk tentara masuk kampus dan kami siap diberangkatkan menuju TKP (Tempat Kejadian Pengkaderan). Saya lebih suka menyebut kader daripada plonco. Kalau kader itu saya maknai ada proses regenerasi dengan sedikit perploncoan. Tapi kalau plonco minim kaderisasi tapi sarat dan rawan untuk diplokotoh. Ngono kiro-kiro rek !. Truk menderu-nderu, meninggalkan kota Surabaya, menuju Trawas seiring matahari yang mulai merendah. Petang itu kami melewati daerah terjal, naik turun dan suasana yang semula ceria, cengengesan di jalan berubah menjadi diam. Apalagi ketika truk diberhentikan di sebuah tanjakan, di kanan jurang dan di kiri batuan yang terjal.