Advertisement

Minggu, 06 Januari 2013

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia karya Prof. Koentjaraningrat

Koentjaraningrat. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan


Buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia adalah karya perdana dari para dosen Antropologi generasi pertama tanah air yang dimotori oleh Prof. Koentjaraningrat (Selanjutnya saya sebut dengan Prof Koen). Buku ini adalah karya etnografi yang hampir sebagian besar dihimpun dari data pustaka oleh berbagai macam antropolog masa perkembangan awal di Indonesia. Buku ini adalah representasi kebudayaan Indonesia dengan berbagai kompleksitasnya yang tersebar dari Sabang sampai Maeruke. Berdasarkan keterangan dari Prof.Koen pada bab pembuka yang menyatakan bahwa data yang diambil adalah data pustaka. Saya membaca buku ini merasa seperti bertamasya dalam keragaman dan kompleksitas kebudayaan di Indonesia yang dijelaskan dengan format khusus yang seakan baku. Format khusus yang saya maksud setelah membaca buku ini adalah pada setiap pembagian kebudayaan yang dibahas tampak penjelasan sistematis yang dibakukan meliputi penjelasan tentang identifikasi, kekerabatan dan sistem perkawinan, religi, demografi wilayah, kesenian, organisasi sosial dan pada pembahasan yang akhir adalah pembangunan dan modernisasi. Buku ini juga menjelaskan suku bangsa yang ikut mewarnai kebudayaan Indonesia yaitu etnis Tionghoa, sebuah kajian bagus untuk lebih memantapkan rasa toleransi terhadap salah satu etnis yang kerap dipinggirkan dan dianggap minoritas.
Sebagai catatan dalam review kali ini antara lain: pertama, Jika dilihat dari konteks kekinian yang mengetengahkan aktualitas, sebagian besar data yang tersaji khususnya yang bersifat kuantitatif adalah data yang ketinggalan jaman dan terpengaruh oleh rezim orde baru. Kedua, Buku ini masih sedikit menyinggung mengenai persebaran dari berbagai etnis yang ada dan interaksinya dengan etnis yang lain, dialog dan interaksi kebudayaan menjadi kajian yang penting dalam melihat keragaman etnis di Indonesia, sehingga jika terjadi masalah dikemudian hari kita telah mempunyai akar permasalahannya. Ketiga,Tidak ada pembicaraan yang lebih mendalam mengenai dinamika sosial budaya dan hal ini menjadi masalah bagi pembaca yang kritis. Dinamika yang dibahas adalah pembangunan dan modernisasi yang menurut saya lebih mengarah pada pengadaan inftrastruktur yang sedikit menyentuh ranah budaya. Bagaimana relevansi antropologi gaya laci (penulisan etnografi yang sistematis dan menurut saya serba dibatasi) di tengah dinamika wacana dan perkembangan pembaca yang semakin kritis dewasa ini?(Roikan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar