Advertisement

Rabu, 21 Maret 2012

Eksistensi Pakacaping: Budaya Ekspresi Masyarakat Gowa Sulawesi Selatan

Judul      : Seri Etnomusikologi, Eksistensi Pakacaping: Budaya Ekspresi Masyarakat Gowa Sulawesi Selatan
Penulis   : Amir Razak
Tebal      : 90 halaman
Penerbit  : Lanarka Publisher
ISBN      : 978-979-17247-6-0

Indonesia mempunyai keragaman kesenian yang dikembangkan pada setiap suku. Musik yang dikembangkan berhubungan dengan kondisi lingkungan setempat. Pertanian di Sunda dengan banyak pohon bambu melahirkan musik dengan instrumen berbahan bambu yang dikenal dengan Angklung. Perkembangan kebudayaan Jawa dengan berbasis metalurgi melahirkan seperangkat alat perpaduan bahan logam dan kayu yang disebut Gamelan. Para pelaut Bugis menyadari jika suara tali layar di kapal menimbulkan suara yang indah dan ini merupakan cikal bakal musik tradisional Pakacaping.
Pakacaping adalah salah satu instrumen tradisional daerah Sulawesi Selatan yang dikenal dalam rumpun etnis Makassar, Bugis dan Mandar. Mengandalkan perpaduan alat musik yang berbentuk seperti kecapi yang digunakan untuk mengiringi alunan suara dari vokal yang menyajikan syair-syair. Jika ikan gabus di Jawa digunakan sebagai inspirasi untuk lagu..."Iwak Kuthuk gurih ndase,.." (Ikan Gabus gurih dimakan pada bagian kepalanya), di Sulawesi Ikan ini menjadi ilham untuk menciptakan bentuk alat musik yang disebut Kanjilo. Kanjilo adalah alat awal dari kacaping (kecapi ala masyarakat Sulawesi Selatan) , Kanjilo mempunyai nama lain Kancillo karena bentuknya menyerupai perahu. Kanjilo terbuat dari batok tempurung kelapa sebagai ruang resonansi yang diberi tali atau senar. Jika kita main kedaerah Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa terdapat satu tempat yang bernama kampung Kanjilo.
Perubahan fisik pada alat musik kacaping terjadi beberapa kali pada grip yaitu bagian yang digunakan untuk bermain tali, awalnya empat grip kemudian berkembang menjadi enam grip. Instrumen enam grip pada kacaping diketahui pertama kali pada tahun 1957. Kacaping enam grip berasal dari etnis bugis tepatnya di daerah Sidrap (Sidenrengrappang) yang diprakasai oleh pendiri dan anggota IKS (Institut Kesenian Sulawesi) yang bernama Hj. Andi Siti Nurhadi Sapada, A.S Said dan Hasan Pulu. Pada tahun 1960 ketiga tokoh ini mendirikan orkes simponi kecapi pada tahun 1960 yang menjadi awal perkembangan intrumen kacaping di Sulawesi Selatan.
Pada awalnya seni pertunjukan musik  tradisional hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dengan tujuan untuk mengisi waktu luang, namun dalam perkembangannya mengalami banyak perubahan. Pakacaping digunakan untuk mengiringi pesta adat, keramaian, siaran radio, peringatan hari besar dan pesta politik. Masyarakat Makassar khususnya Kabupaten Gowa mempunyai tradisi budaya yang berbentuk pesta (a'gau-gau atau assua-suara) yang terbagi dalam pesta upacara sunatan (a'sunna), Khitanan (a'kattang), perkawinan (pa'buntingang), upacara naik rumah jika rumah panggung (nai' balla) dan upacara masuk rumah jika rumah batu (antama balla).
Pementasan dilakukan pada tempat-tempat tertentu dan tidak memerlukan panggung yang tinggi, namun dekat dengan penonton karena Pakacaping lebih menonjolkan aspek interaksi antara pemain musik dengan pemain. Jika pertujukan digelar dalam acara perkawinan panggung berada di dekat pelaminan dan jika untuk upacara masuk rumah pertunjukan dilakukan di halaman rumah.

Syair yang menjadi kekuatan pertujukan pakacaping mempunyai berdasarkan penelitian mempunyai 21 jenis nama syair atau petikan. Syair-syair dalam Pakacaping terdiri dari Pambuka (lagu pembuka), Sinrilik (lagu sinrilik), langkarak (jarang), Bunganna Langkebo (bunga kembang putih), Ilalo Gading (lagu muda belia), Gamboso (lagu gambus), jammemma (lagu kasmaran), Tabbali' Balika (lagu terbalik-balik), Remba-rembaya (lagu seiring sejalan), leko' Ta'lamba-lamba (lagu daun melambai), Andile-andile (lagu wahai adik), Toraya (lagu tentang orang pegunungan), canda-candaka (lagu tentang jalan-jalan), Jandaya (lagu tentang janda), Pakkio Bunting (lagu memanggil pengantin), dandu'na (lagu lirik dangdut), Anging Mammiri (lagu anging mammiri), Daeng Riya (lagu untuk Daeng Riya), Pa Ambi' Bulu (Pendaki gunung), kelong agama (lagu agama), kelong kampanye (lagu kampanye) dan panonngko (lagu penutup).
Seni pertunjukan musik tradisional pakacaping adalah musik hiburan yang sudah dihadirkan dalam berbagai konteks saat ini, berdampak positif pada pemain dan keseniannya sendiri. Pertunjukan yang sering (job) dapat menambah penghasilan bagi para pemain pakacaping, selain itu kesenian tradisional ini akan lebih dikenal masyarakat.
Pertujukan pakacaping dilakukan semalam suntuk mulai dari pukul 20:00 sampai pukul 05:00 dini hari. Bentuk penyajian musik ini dilakukan secara tunggal maupun berpasangan. Penyajian syair bersifat spontan dan penuh improvisasi namun tidak meninggalkan makna dan petuah bijak dibalik setiap syair yang dilantunkan. Perkembangan berbagai fenomena sosial yang semakin komplek mempengaruhi  syair yang disajikan dan ini berhubungan dengan dinamika dalam pakacaping sendiri yang akan selaras dengan berbagai perkembangan jaman. Musik pakacaping bukan hanya sekadar musik hiburan semata, namun dapat menjadi sarana untuk menyatukan tali persaudaraan antar anggota masyarakat khususnya Makassar dan Gowa sebagaimana dalam salah satu syait yang berbunyi :

" Ikatte ri butta Gowa, punna nia pa' gaukang, labbiri tongi bunganga ilangkebo ala dende' ala saying, nikanaya sekre-sekre atu dende-dendele alla ri dengdangkodong"

"Kita di tanah Gowa, kalau ada pesta, alangkah baiknya atau terhormatnya perkumpulan itu".

Buku ini menarik untuk disimak, karena merepresentasikan kehidupan masyarakat etnis Makassar di daerah Gowa yang suka dengan keramaian  atau pesta. Buku ini adalah kajian kesenian berbasis musik yang dikenal dengan etnomusikologi yang menampilkan tiga tahap analisa yaitu musik sebagai konsep, musik sebagai perilaku dan unsur instrinsik dalam musik (desah, bunyi, nada dan suara). Ketiga tahap tersebut dipadukan dengan tafsir budaya sehingga diperoleh gambaran dan analisa yang lengkap tentang musik dalam konteks sosial budaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar