Advertisement

Minggu, 28 Juli 2013

Kuliah Lapangan Pertamaku (Trinil-Sangiran-Matesih-Sukuh) 2003

Desember 2003, setelah melewati masa orientasi dan inisiasi sebuah langkah awal kelanjutan yang disebut sebagai kuliah lapangan. Antropologi mempunyai ciri khas dari catatan lapangan (fieldnotes) yang menjadi data dalam rangka melakukan pengkajian yang disebut dengan etnografi. Etnografi merupakan suatu argumen yang mempunyai keterkaitan dengan pengetahuan terhadap sesuatu khususnya kebudayaan dengan detail. Saya masih ingat sebelum memutuskan untuk memilih jurusan kalah tes perguruan negeri -untuk yang kedua kalinya- salah satu teman bilang, kalau masuk antropologi nanti menjadi orang lapangan. Orang lapangan yang terbersit dalam alam pikiran kalah itu, saya pikir hidup dan kerjanya hanya di lapangan. Ternyata setelah masuk di antropologi, asumsi tersebut tidak selamanya benar. Karena ada keterkaitan antara lapangan dengan non lapangan, di lapangan kita praktek sedangkan sisanya kita harus juga berkutat dengan berbagai literatur. Jadi harus ada kesinambungan antara pemahaman teori (untuk kepentingan tekstual) dan penelurusan lapangan (untuk kepentingan kontekstual). Kedua hal tersebut harus saling bersinergi. 
Kembali pada tema utama pada postingan, saya berbagi cerita perihal kuliah lapangan pertama ini. Mata kuliah pertama yang dikuliah lapangan adalah prasejarah. Sebuah mata kuliah dasar dan wajib untuk antropologi semester awal di Unair. Di bawah asuhan Pak Yusuf E. (kerap dipanggil Pak Ucup), bersama Pandu dan Fajar bertugas sebagai tim survey sekaligus menyiapkan segala keperluan kuliah lapangan, jadi harus berangkat lebih awal. Tepatnya tanggal likuran (20-an) bulan Desember 2003, masih terbersit dalam ingatan saat bertiga berangkat naik bus dari terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya menuju Solo.

Cermat Mendengarkan
Bertugas sebagai pioner atau tukang babat alas memiliki keuntungan secara perolehan data, setidaknya kita bisa mencuri start dalam hal orientasi lapangan dan mendapat hal lebih. Malam menghabiskan waktu di pinggir jalanan Solo dan keesokan harinya berangkat urusan survey serta perijinan. Walau moment ini terjadi pada tahun 2003, namun sampai terdapat beberapa hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja (karena menjadi kenangan menggelikan saat kuliah lapangan perdana). Pertama, kejadian waktu mandi pagi di kali -lebih tepatnya saluran air- pada area belakang musem Sangiran. Air yang kelihatan dalam dan deras, namun setelah mencoba menjatuhkan diri ternyata kedalaman tidak sampai leher, maklum air yang ada berwarna kecoklatan; kedua, saat memutuskan untuk menginap di sekitar Museum Trinil - Ngawi, kami sepakat untuk tidur di pendopo dalam pekat malam, tanpa penerangan dan disertai hujan. Tiba-tiba muncul sosok yang cukup membuat kami kaget, bukan penampakan atau hantu, namun salah satu warga desa sebelah museum dengan membawa senter memerintahkan kami untuk pindah tempat. Tidak disangka ternyata beliau telah menyulap ruang tamu rumah kayunya menjadi kamar darurat kami. Tikar, teh hangat dan obat nyamuk menjadi alat penyambutan yang sangat berkesan.

Depan Sangiran
Kuliah lapangan merupakan upaya untuk pengambangan dalam pengetahuan etnografis melalui studi yang memperhatikan realitas obyektif dalam hal ini fenomena kultural dan menggunakan tiga pilar agar kajian etnografinya menjadi maksimal. Pilar pertama adalah komparasi atau upaya perbandingan, kedua deskripsi dalam penggambaran dan pencatatan secara detail dan holistik dan terakhir adalah analisa dengan memperhatikan epistemologi dan kajian teori yang sesuai dengan fenomena yang ada.
Megalitik
Kuliah lapangan perdana dengan lokasi yang berbeda-beda menjadi pengalaman yang sulit saya lupakan jika mengingat masa awal kuliah. Berawal dari Trinil (Ngawi) lanjut ke Sangiran dan setelah itu di lanjutkan menuju Candi Sukuh dan Matesih (terdapat batu besar di area persawahan yang dianggap sebagai peninggalan megalitik dan ada yang mengatakan sebagai bahan baku untuk pembuatan candi Sukuh).
Antara mencatat dan berpose
Kuliah lapangan akan dihadapkan pada berbagai macam data termasuk pilihan data yang akan kita ambil, eksplorasi dan membuat catatan khusus sampai pada akhirnya berbentuk laporan yang etnografis. Catatan lapangan menjadi hal yang utama bagi seorang antropolog, oleh karena itu buku kecil dengan segenggam alat tulis menjadi 'senjata' yang utama di lapangan. Dari sini kita bisa mencatat apa saja yang kita temui dan melakukan pemilahan mana data yang dibutuhkan dan mana yang kurang dibutuhkan.
Ceria di lapangan
Terjun ke lapangan menjadi santapan wajib bagi calon antropolog. Alan Bryman menyebutnya sebagai menjadi fielworker atau pekerjaan di lapangan. Terdapat tipologi untuk orang yang turun ke lapangan menurut Bryman (2001) ada yang dinamakan: complete participant, participant as observer, observer as participant, complete observer. Penggolongan di atas didasarkan pada kiprah peneliti selama di lapangan yang dilihat dari waktu, keintensifan penggalian data, partisipasi sampai pada pengandalian diri untuk menjadi peneliti yang netral tanpa ada subyektifitas dan sikap yang skeptis. Oleh karena itu dalam Alan Bryan juga menggagas tentang pentingnya pengendalian diri sewaktu kita di lapangan. Selain memperhatikan etika dan prinsip di mana bumi di pijak di situ langit di junjung, dalam penelitian lapangan juga perlu memperhatikan kedekatan dan kontrol diri pada informan. Jarak harus selalu di jaga untuk menanggulangi terjadinya Going native yang dapat berpengaruh pada tingkat keobyetifan data. 
Sebelum mengakhiri postingan kali ini, saya akan membeberkan keempat tipologi di atas, namun sebelumnya kita harus bisa membedakan antara partisipan dengan observer. Partisipan jelas orang yang tidak hanya melihat namun ikut terlibat, sedangkan observer lebih pada bagaimana seseorang mengadakan pengamatan dengan cermat tanpa perlu melibatkan diri, pengamatan dan perekaman menjadi hal yang utama baginya. Artinya terkait dengan jarak, observer lebih berjarak dari pada partsipan. Complete participant adalah keterlibatan penuh dari seorang fielworker sampai melibatkan unsur yang non ilmiah teknis seperti instusisi, afeksi sampai bisa terjadi cinta lokasi. Participant as observer adalah bagaimana seorang fielworker ketika turun kelapangan ikut berpartisipasi aktif namun lebih banyak menempatkan dirinya sebagai pengamat. Lain dengan observer as participant yang kebalikan dari aktifis yang mengamati namun ini adalah pengamat yang turut aktif dalam membangun kedekatan dan partisipasi aktif dalam penelitiannya. Terakhir adalah complete observer, menjadi pengamat sepenuhnya dengan observasi dan wawancara berusaha menggali data tanpa harus ikut terlibat dengan berbagai kegiatan dalam suatu komunitas.


Referensi 
Bryman, Alan. 2001. Ethnography  SAGE Benchmarks in Social Research Methods Series Four. London: SAGE Publication.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar